Galuh Wijayanti - Viabilitas Azospirillum Brasilense pada Enkapsulasi Menggunakan Campuran Natrium Alginat dan Tepung Tapioka

Skripsi / Tugas Akhir Biologi
Penulis: Galuh Wijayanti
Program Sarjana Universitas Diponegoro
Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Ringkasan

Tujuan pertanian organik adalah untuk menyediakan produk-produk pertanian, terutama yang menjadi bahan pangan dengan tidak merusak lingkungan dan aman untuk dikonsumsi. Jenis pupuk yang diharapkan mampu untuk mendukung pertanian organik tanpa perlu adanya penggunaan pupuk-pupuk berbahan kimia sintetis maupun pestisida adalah pupuk biologis yang mengandung suatu mikroba tertentu sebagai bahan aktif. Azospirillum brasilense adalah salah satu rhizobakteri yang memiliki kemampuan menghasilkan zat pengatur tumbuh dan menambat nitrogen, sehingga berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai pupuk biologis karena dapat memacu pertumbuhan tanaman. Pupuk biologis dapat dihasilkan melalui enkapsulasi. Hasil enkapsulasi berupa kapsul Ca-alginat.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui 1) viabilitas Azospirillum brasilense pada kapsul Ca-alginat yang dicampur tepung tapioka pada suhu penyimpanan ± 25 oC dan± 4 oC, 2) pengaruh tepung tapioka terhadap kualitas kapsul Ca-alginat yang dihasilkan, dan 3) formula bahan pembawa terbaik dalam pembuatan pupuk biologis hasil enkapsulasi. Digunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial dengan 2 faktor dalam penelitian ini. Faktor pertama yaitu suhu penyimpanan dan faktor kedua yaitu formula bahan pembawa berupa perbandingan konsentrasi tepung tapioka dan natrium alginat.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perlakuan suhu penyimpanan berpengaruh tidak nyata terhadap viabilitas sel Azospirillum brasilense, sedangkan formula bahan pembawa berupa perbandingan konsentrasi tepung tapioka dan natrium alginat berpengaruh nyata. Semakin rendah konsentrasi natrium alginat yang digunakan maka semakin lemah konsistensi kapsul Ca-alginat yang akan dihasilkan sehingga mudah hancur. Formula bahan pembawa terbaik yang dapat mempertahankan viabilitas sel Azospirillum brasilense selama 40 hari masa simpan adalah formula natrium alginat dan tepung tapioka dengan perbandingan 2 : 1 (b/v).

Arnis Muslifa - Efektivitas Cendawan Mikoriza Arbuskular dan Pupuk Konsorsium Mikroba thd Pertumbuhan dan Produksi Kacang Koro Pedang (Canavalia ensiformis)

Tugas Akhir / Skripsi Biologi
Disusun oleh: Arnis Muslifa
Program Sarjana Universitas Airlangga
Program Studi Biologi
Fakultas Sains dan Teknologi

Intisari:

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dan efektivitas pemberian CMA, pupuk konsorsium mikroba dan kombinasi keduanya dengan konsentrasi berbeda terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman kacang koro pedang (Canavalia ensiformis). Penelitian ini dilakukan di lahan pertanian Gunung Anyar, Surabaya. Parameter pertumbuhan meliputi tinggi tanaman, panjang akar, biomassa batang dan daun, biomassa akar dan berat bintil akar. Sedangkan parameter produksi meliputi berat polong per tanaman dan berat kering biji per tanaman. Penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap dan uji faktorial (3x3), 3 macam konsentrasi CMA (0, 20 g, 30 g), dan 3 macam konsentrasi pupuk konsorsium mikroba (0, 20 ml, 30 ml), masing-masing perlakuan dengan 5 replikasi. Data dianalisis dengan menggunakan ANAVA jika ada beda nyata dilanjutkan dengan uji Duncan dengan taraf signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian CMA, pupuk konsorsium mikroba serta kombinasinya berbeda nyata (α < 0,05) terhadap pertumbuhan dan produksi kacang koro. Pemberian CMA 30 gr memberikan hasil tertinggi , tinggi tanaman (109 ± 8,27 cm), panjang akar (5,2 ± 9,08 cm) dan berat bintil akar (5,29 ± 0,60 g) dan CMA 20 g memberikan hasil tertinggi pada biomassa batang dan daun (273,40 ± 51,69 g), berat polong (387,60 ± 41,45 g) dan berat kering biji (152 ± 48,16 g). Pemberian pupuk konsorsium mikroba 20 ml memberikan hasil tertinggi pada tinggi tanaman (117, ± 10,54 cm), panjang akar (55,2 ± 3,70 cm), pupuk konsorsium mikroba 30 ml memberikan hasil tertinggi pada biomassa batang dan daun (346,80 ± 75,90 g), berat bintil akar (7,86 ± 2,51 g), berat polong (700 ± 154,11 g) dan berat kering biji (188 ± 53,57 g). Kombinasi CMA 20 g dan pupuk konsorsium mikroba 20 ml memberikan hasil tertinggi pada tinggi tanaman (107 ± 4,24 cm), biomassa batang dan daun (248,60 ± 73,70 g), biomassa akar (27,20 ± 7,04 g), berat bintil akar (8,64 ± 0,69 g), berat polong (460 ± 163,55 g) dan berat kering biji (154,80 ± 11,40 g) dan kombinasi CMA 20 g dan pupuk konsorsium mikroba 30 ml memberikan hasil tertinggi pada panjang akar (54,10 ± 4,21 cm). Pemberian CMA dan pupuk konsorsium mikroba berpengaruh meningkatkan pertumbuhan dan produksi kacang koro pedang. CMA 30 g, pupuk konsorsium mikroba 20 ml dan kombinasi antara CMA 30 g dan pupuk konsorsium mikroba 20 ml memberikan efektivitas tertinggi dalam meningkatkan pertumbuhan dan produksi kacang koro pedang.

Kumpulan Judul Skripsi Biologi - Headline Animator